Pelatihan PPH, PCM Kartasura Hadirkan 5 Narsum Pusat Studi Halal

 Pelatihan PPH, PCM Kartasura Hadirkan 5 Narsum Pusat Studi Halal

Majelis Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pemberdayaan Masyarakat bekerjasama dengan Pusat Studi Halal Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Pelatihan Pendamping Produk Halal (PPH) yang berlangsung selama dua hari yaitu pada hari Sabtu dan Ahad, 18-19 November 2023 bertempat di Gedung Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si selaku Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kartasura dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini sangatlah penting bagi kader Muhammadiyah dan Aisyiyah Kartasura, karena pengetahuan tentang produk halal sangat penting untuk dipahami bagi setiap muslim.

“Saat ini banyak produk-produk yang membajiri di pasaran, sehingga sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk dapat mengontrol proses produksi dan memberikan jaminan akan kehalalan produk-produk tersebut” kata Dr. Kuswaji.

Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pemberdayaan Masyarakat (MEBPM) PCM Kartasura H. Herman Wibowo, SH., MM. mengungkapkan bahwa acara ini merupakan salah satu program kerja dari Majelis Ekonomi yang mana program kerja pertama adalah pemberdayaan ekonomi umat. Pemberdayaan ekonomi umat harus dimulai dari pondasinya terlebih dahulu yaitu pemetaan ekonomi umat di wilayah Kecamatan Kartasura.

“Pemetaan ekonomi umat ini harus melibatkan ranting-ranting yang ada di wilayah Kartasura, di mana di Kartasura terdapat 12 ranting, sehingga masing-masing ranting harus mengetahui program kerja Majelis Ekonomi agar dapat berkolaborasi dan melaksanakan program kerja secara berkesinambungan. Perekonomian umat dapat berkembang apabila mempunyai produk yang berkualitas, salah satu syarat produk berkualitas adalah mempunyai sertifikasi halal, sehingga pada kesempatan ini dilaksanakan Pelatihan Pendamping Produk Halal (PPH)” ungkap Herman yang sekaligus sebagai ketua panitia Pelatihan.

Lebih lanjut Herman menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk mendapatkan kader-kader sebagai pendamping dalam sertifikasi produk halal. Melalui pendampingan ini maka produk-produk ekonomi umat dapat ditingkatkan kualitasnya dengan adanya sertifikat halal sehingga dapat bersaing di pasar global.

Pelatihan yang diikuti sekitar 60 peserta dari kader Muhammadiyah dan Aisyiyah Kartasura ini menghadirkan 5 pemateri dari Pusat Studi Halal Universitas Muhammadiyah yaitu Ir. Herry Purnomo, M.T, Ph.D, Dr. Haryoto, M.Sc, Aan Sofyan, SPt, M.Pd, M.Si, Firmansyah, S.Si, M.Gizi dan dipimpin oleh Apt Peni Indrayudha, S.F, M. Biotech, Ph.D.
Pada pelatihan ini disampaikan bahwa berbagai syarat dan strategi pendampingan PPH, meliputi tata cara registrasi dan kewajiban pendamping serta persyaratan dan dokumen pernyataan pelaku usaha. Beberapa syarat yang harus dipenuhi selaku pendamping PPH, adalah Berkewarganegaraan Indonesia (WNI), beragama Islam, memiliki wawasan yang luas dan memahami syariat mengenai kehalalan produk, dan memiliki sertifikat pelatihan pendamping PPH.

Proses Produksi Halal dalam usaha pangan pada prinsipnya terdiri dari beberapa tahapan, dan setiap ada penambahan bahan selama proses produksi juga harus memiliki ketelusuran yang jelas. Bahan yang digunakan itu terbagi menjadi bahan kritis dan non-kritis (positif). Khusus bahan kritis wajib memiliki sertifikat halal, sedangkan pada bahan non-kritis tidak wajib ada. Tidak hanya pemeriksaan bahan dan proses produksi, self declare juga memperhatikan karakteristik produk, seperti nama, bentuk, kemasan, dan karakteristik produk. Sertifikat halal tidak akan diberikan kepada produk yang memiliki nama tidak sesuai syariat.

Untuk memastikan kehalalan suatu produk wajib mencakup penyediaan bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan hingga penyajian produk. PPH memiliki ketentuan-ketentuan yang wajib diperhatikan seperti lokasi usaha, tempat produksi dan alat yang digunakan untuk produksi tetap bersih, higienis, dan tidak terkontaminasi dengan najis atau bahan yang diharamkan serta dibuktikan dengan hilangnya bau, warna, dan rasa dari pengotor dan bebas dari babi. Adapun tips agar ketika terjun mendampingi masyarakat adalah agar tidak lupa untuk mengkomunikasikan maksud dan tujuan self declare dengan baik. Tidak hanya mampu berkomunikasi secara verbal, tetapi juga melibatkan teknik komunikasi nonverbal melalui gerakan tubuh dan tulisan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *