Mengenal Pimpinan Kopi, Dulu Pelaku Kriminal Kini Penebar Kebaikan

 Mengenal Pimpinan Kopi, Dulu Pelaku Kriminal Kini Penebar Kebaikan

SUKOHARJO-Mengajak orang untuk kembali ke jalan benar memang tidak mudah, apalagi yang diajak adalah para preman yang tersangkut berbagai macam kasus kriminal. Namun, bagi Sujito tantangan tersebut menjadi penyemangat hingga akhirnya ia mendirikan Kopi (Komunitas Preman Insyaf).

Kopi didirian pada tanggal 12 April 2019 ide tersebut setelah Sujito Muhammad Muhajir pulang dari Palu menjadi relawan bencana gempa bumi. Disana ia melihat begitu banyak mayat dan rumah hancur berkeping-keping. Dari situlah hidayah itu hinggap hingga ia akhirnya belajar ke sebuah Ponpes di daerah Kaliyoso, Sragen.

“Kopi (Komunitas Preman Insyaf) keanggotaan nya 80 % adalah mantan preman. Program kerjanya adalah di bidang sosial dan dakwah diantara bakti sosial, berbagi nasi dan setiap Jumat ke empat mengadakan penambalan jalan”ujarnya saat ditemui di acara peletakan batu pertama pembangunan  Gardu Kampus Pemberdayaan Masyarakat di Dusun Karangalih RT 4 RW 3 Desa Kadokan, Kecamatan Grogol, Ahad (5/2/2023).

Aggota saat ini mencapai 49 orang, sebelumnya mencapai 100 lebih namun karena ada beberapa persoalan yang lain mengundurkan diri.

“Ada dari mereka yang malu bergabung ke Kopi karena tidak aktif saat ada kegiatan atau masih melakukan pekerjaannya yang dilarang oleh agama dan negara,”tambahnya.

Lanjut, Sujito Kami pada dasarnya adalah wadah bagi orang-orang yang ingin berbuat lebih baik dan tidak memandang dari Suku, Agama, Ras dan Golongan.

“Dulu basecamp kami menumpang di Gedung HMI Solo namun karena ada pertauran baru maka sementarapindah di rumah saya di Kampung Karangalih Desa Kadokan. Namun karena ada bantuan dari Mbah Wono maka kedepan basecamp akan pindah ke sini,”turutnya.

Sujito sendiri aktifitas hariannya adalah peternak dan penggemukan kambing, dulunya pernah terjerat di lembah hitam dan berkali-kali harus berurusan dengan aparat kepolisian karena melakukan pencurian.

Saat ditanya tentang masa  lalunya Sujito merasa malu dan menitikan air mata karena ingat masa lalunya yang kelam penuh dosa.

“Dulu saya mengambil motor atau mobil itu cuman butuh waktu tidak lebih 2 menit tidak butuh waktu lama. Belum lagi memback up lahan parkir biasanya kita datangi pemimpinnya kita minta kalau tidak mau ya berkelahi siapa yang kalah kalau menang jadi anak buah. Kalau kita kalah ya sudah,”ungkapnya.

Bahkan untuk memperkuat pekerjaan tersebut Sujito juga harus mencari ilmu kebal bacok sebagai bekal di dunia hitam yang penuh dengan intrik.

Tapi kini semua ia tinggalkan Sujito kini berhijrah dan perlahan ilmu kebalnya sudah menghilang.

Saat ini ia tinggal bersama istri dan anaknya yang semuanya sangat mendukung kegiatan berdakwah Sujito dalam mengajak kebaikan.

Tantangan dalam berdakwah juga tidak semulus yang banyak orang bayangkan, bahkan Sujito rela menjual puluhan kambing yang digunakan untuk perjuangan dakwah bahkan bangkrut dan sempat hutang ke sana ke mari.

“Karena rata-rata para mantan preman kehidupannya menengah ke bawah jadi saat diajak untuk bakti sosial harus memberi ganti rugi penghasilan dalam sehari,”ujarnya.

Namun semua itu dilewati Sujito dengan sabar dan iklhas hingga saat ini Kopi terus istiqomah mengajak para mantan preman untuk mendekatkan diri pada Sang Illahi. []

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *