UAS: Setiap Kali Salat Subuh di Masjid Muhammadiyah, Saya tidak Mau Jadi Imam

 UAS: Setiap Kali Salat Subuh di Masjid Muhammadiyah, Saya tidak Mau Jadi Imam

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL—Ustaz Abdul Somad (UAS) mengisi ceramah dalam acara Tabligh Akbar Milad Kokam ke-57 di Gedung Dakwah Muhammadiyah Bantul pada Sabtu (01/10). Menurutnya, merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan tanggungjawab bersama seluruh elemen bangsa. Segala hal yang dapat memecah belah persatuan harus dihindari, karena hanya akan menampakkan mudharat daripada maslahat.

“Kita dengan aneka ragam bahasa, beraneka suku dan agama, slogan kita Bhineka Tunggal Ika. Ini yang menjaga keutuhan kita, menyiraminya, memupuknya, jangan sampai dimakan hama. Yang menjaga NKRI adalah kita semua. Siap menjaga NKRI?” tanya UAS yang disambut pekikan ‘siap’ dari jamaah.

Selain itu, UAS juga menyampaikan pesan bahwa perselisihan di antara internal umat Islam juga penting dihindari. Pasalnya, antara satu golongan Islam dengan yang lain banyak persamaan daripada perbedaan, mulai dari kitab suci, hadis Nabi, kiblat, nilai-nilai, dan lain sebagainya. Kalaupun ada perbedaan di antara umat Islam, letaknya bukan pada aspek esensial dan fundamental melainkan pada tataran parsial alias cabang.

“Pada perkara yang disepakati mari kita beramal bersama-sama. Pada perkara yang berbeda, mari kita jaga perasaan satu sama lain,” tegas UAS.

UAS kemudian bercerita selama di Pekanbaru, Riau, ia sering mendapat undangan ceramah di masjid-masjid Muhammadiyah. Di samping ceramah, UAS juga sering diminta untuk memimpin salat berjamaah. Namun, ia selalu menolak. Alasannya, UAS tidak mau membingungkan jamaah hanya karena perbedaan tata cara salat yang sifatnya furu’iyyah. Menjaga persaudaraan lebih diutamakan daripada memaksakkan ego pribadi.

“Setiap disuruh jadi imam, saya jawab: batuk. Saya hanya tausiyah, bacakan ayat, bacakan hadis. Namun untuk jadi imam, no. kenapa? Karena saya tahu ada sedikit perbedaan, saya tidak mau membingungkan jamaah,” terang UAS.

Selain itu, UAS juga sering mengisi kajian hadis pada subuh hari di Masjid Akramunnas di Pekanbaru, Riau. Pendiri masjid ini adalah warga Muhammadiyah. Sebelum melaksanakan kajian, UAS kerap diminta memimpin salat subuh berjamaah. Namun, lagi-lagi ia menolaknya. Alasannya, Muhammadiyah tidak qunut, sementara UAS melaksanakan qunut subuh. Ia tidak ingin membingungkan jamaah hanya karena urusan-urusan parsial.

“Selama mengajar di masjid itu, saya menghindari jadi imam salat subuh. Kenapa? karena saya tahu di masjid itu imam tetapnya kalau subuh tidak pakai qunut, sedangkan saya pakai qunut,” tutur UAS.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *