Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dianugerahi Gelar KRAT Oleh Kasunanan Mataram Surakarta Hadiningrat

 Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dianugerahi Gelar KRAT Oleh Kasunanan Mataram Surakarta Hadiningrat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Cak Nanto dianugerahi gelar oleh Kasunanan Mataram Surakarta Hadiningrat sebagai “Kanjeng Raden Arya Tumenggung (KRAT) Sunanto Maduyoso Cokronegoro”.

Penganugerahan ini dilakukan di Sitinggil Keraton Mataram Surakarta Hadiningrat oleh Koes Moertiyah, Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta, Sabtu (1/10).

Penganugerahan itu juga di hadiri oleh Tafsir, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah dan segenap anggota Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah.

Dalam kesempatan itu, Cak Nanto bersyukur dan berterimakasih atas penganugerahan amanah ini. Penganugerahan gelar ini semakin menguatkan hubungan yang telah lama terjalin antara Keraton Surakarta dengan Persyarikatan Muhammadiyah. Dirinya lalu menyampaikan bahwa anak muda tidak boleh menafikan sejarah bangsa. Termasuk rangkaian sejarah bagaimana Islam masuk ke Indonesia yaitu melalui proses akulturasi budaya.

“Di mana keraton atau kerajaan kala itu menjadi episentrum budaya yang kemudian mampu berakulturasi dengan ajaran Islam yang dibawa oleh para tokoh Islam yang datang ke Indonesia. Karenanya penting hari ini pemuda-pemuda Indonesia untuk mampu memahami budaya sebagai bagian penting dari dakwah Islam yang berkemajuan,” ucapnya.

Cak Nanto juga menyebut bahwa KH. Ahmad Dahlan dulu merupakan orang yang mampu memadukan budaya dan ajaran Islam begitu harmoni sehingga menghasilkan langgam ajaran yang mampu diterima oleh banyak kalangan meskipun pada awalnya sempat ditentang oleh banyak kalangan. Namun dengan ketulusan dakwah serta kesabaran dan tekat yang kuat, ajaran KH. Ahmad dahlan menjadi rujukan banyak warga bangsa bahkan hingga warga dunia.

Selanjutnya Cak Nanto juga menyampaikan, sebagai kader Muhammadiyah pemuda tidak boleh anti pati dengan budaya, apalagi kemudian dengan sangat mudah melihat perbedaan sebagai ancaman. Justru harus menjadikan perbedaan sebagai kompas kearifan dalam berfikir dan bertindak.

“Spirit dakwah Muhammadiyah adalah mempersatukan dengan menjunjung tinggi aspek-aspek kemanusiaan,” pungkasnya. (afn)

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *