Muktamar 48 Diharapkan Menjadi Teladan, Menggembirakan dan Memajukan Peradaban

 Muktamar 48 Diharapkan Menjadi Teladan, Menggembirakan dan Memajukan Peradaban

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MOJOKERTO — Hadir di acara Tabligh Akbar yang diadakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Mojokerto, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir meminta doa kepada seluruh warga persyarikatan untuk kesuksesan Muktamar ke-48 Muhammadiyah-‘Aisyiyah di Surakarta, 18-20 November nanti.

Muktamar ke-48 ini diharapkan menjadi musyawarah percontohan, teladan dan baik bagi semuanya. Haedar menuturkan bahwa, musyawarah yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah-‘Aisyiyah untuk menggembirakan dan memajukan. Hal itu merujuk kepada Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Memajukan, tuturnya merupakan orientasi hidup kepada apa yang berada di depan, bukan ke belakang. Islam sebagai agama yang Berkemajuan dasarnya adalah iqra atau membaca. Membaca di sini bukan dalam arti sempit, tapi bermakna luas. Mengutip Bung Karno, Islam adalah agama yang mengajarkan kemajuan dan nilai-nilai hidup maju yang bukan hanya bagi Umat Islam tetapi bagi seluruh alam.

Di acara Tabligh Akbar Semarak Muktamar ke-48 Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang diadakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Mojokerto, Sabtu (22/10), Haedar mengatakan bahwa Muhammadiyah dan Islam hadir di dunia untuk menggembirakan dan memajukan tanpa terkecuali, yaitu kerahmatan Islam ini bagi seluruh alam.

Islam juga bukan hanya wahyu, perkataan dan ajaran-ajaran, tetapi Islam dipraktikkan oleh Nabi Muhammad menjadi Sunnah, sehingga mampu memajukan kehidupan masyarakat Islam di masa itu, dan memajukan peradaban Islam. Termasuk Peradaban Emas Islam yang berjalan berabad-abad silam, dasarnya telah diletakkan begitu lama oleh Nabi Muhammad.

“Tidak mungkin Islam itu menjadi agama dunia, ketika bangsa barat masih tertidur lelap kalau bukan karena pencerahan yang diberikan oleh Islam,” ucapnya.

Di Indonesia, Islam menjadi agama minoritas dalam kacamata Haedar dikarenakan Islam memberikan harapan baru bagi masyarakat Indonesia waktu itu.

Harapan itu harus senantiasa dirawat dan dibuktikan. Sebab bukan tidak mungkin komunitas atau bangsa yang dengan agama mayoritas tertentu bisa berganti. Mayoritas menjadi minoritas di komunitas tersebut.

Sedangkan tentang peluang dan potensi perkembangan Islam di Barat, Haedar mengatakan, bahwa mengubah dan membangun sejarah baru itu bukan suatu yang tidak mungkin. Tingal bagaimana Umat Islam dalam mewujudkan itu. Semangat ini adalah bagian dari pemahaman Islam yang Berkemajuan. Haedar mengingatkan bahwa untuk usaha apapun yang sedang dilakukan, manusia atau organisasi tidak boleh berputus asa.

“Kehadiran baru format Islam di Eropa, Islamophobia juga akan tereliminasi. Meski tidak bisa dikatakan bersih sama sekali,” tuturnya.

Di masa depan ilmuwan memprediksi Islam akan tampil sebagai agama dengan pemeluk terbanyak di dunia. Meski tidak terpaut jauh dengan jumlah umat beragama lain, tapi ini adalah kesempatan bagi Umat Islam untuk memajukan dunia. Untuk itu Guru Besar Sosiologi ini mendorong supaya Umat Islam mengaktualisasikan Agama Islam yang damai bagi peradaban yang adil bagi masa depan.

“Kita yakin kemajuan akan menjadi milik kita tapi perlu berjuang, perlu jihad, perlu Tajdid sebagaimana yang dilakukan oleh Muhammadiyah,” imbuhnya.

Haedar menegaskan, bahwa Islam yang Berkemajuan adalah Islam yang tidak anti dunia. Melainkan Islam yang tidak memisahkan antara kemajuan dunia dan ‘tabungan’ untuk perjalanan hidup di akhirat. Oleh karena itu, Warga Muhammadiyah tidak boleh anti terhadap dunia, sekaligus memiliki hidup yang berorientasi pada kehidupan di masa depan yaitu akhirat.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *